SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA


Selasa, 19 Juli 2011

31 Alam bag 8
Enam alam Deva ( Dewa ) ini adalah tempat tinggal sementara yang penuh kebahagiaan dimana para makhluk tampaknya hidup menikmati kesenangan indrianya yang sesungguhnya cepat berlalu.

Alam Sugati ini, seperti halnya alam-alam Dugati, juga terkena hukum alam ; tidak-kekal. Sehingga, pantaslah ajaran Jawa, bahwa manusia J...awa itu tidak mengharap-harap masuk surga, tetapi “manunggal” dengan “Yang-Mutlak”, “Kahanan-Jati”, dan itu, bukan s u r g a.

Menurut pengalaman saya dalam “menengok” alam surga tersebut, maka disana sesungguhnya hidup banyak sekali makhluk surgawi, sama seperti manusia yang jumlahnya pun teramat sangat banyak. Satu makhluk surgawi, tentunya yang berstrata “Dewa / Dewi” bisa mempunyai ribuan pelayan / Dayang-dayang. Dayang-dayang / Peri-Peri tersebut “kerjaannya” adalah menghibur para Dewa / Dewi dan putra-putri mereka dengan nyanyian dan tarian-tarian. Mereka hidup dalam istana-istana yang megah, bagaikan kerajaan di alam dunia ini. Maka memang pantaslah ada istilah “Kerajaan-Surga”, karena memang seperti itulah adanya.

Jika ada manusia yang terlahir di alam dewa ini dalam pangkuan seorang dewa / dewi tertentu, maka dia akan menjadi anak dari dewa / dewi tersebut. Para dewa / dewi lahir secara spontan, dengan usia berkisar antara 16 tahun, dan selama mereka hidup di alam surgawi tersebut memiliki rupa yang tampan / cantik.

Jika ada manusia yang terlahir di sebuah istana dewa / dewi tertentu, bukan di pangkuan sesosok dewa / dewi yang berkuasa tersebut, maka ia akan menjadi pelayan Sang Dewa / Dewi.

Sebagai contoh, Kanjeng Ratu Kidul yang mempunyai “struktur-organisasi” lengkap dengan istana kekuasaannya, itu adalah kenyataan, bukan isapan jempol semata. Demikian juga dengan para Dewa yang lainnya. Hal ini bisa dibuktikan. Dengan melatih samadhi, dan dengan mencapai ketenangan yang dalam, batin yang terpisah dari tubuh, dengan perhatian-terpusat-sepenuhnya ( jadi bukan dalam keadaan “tans” seperti yang seringkali disebut-sebut ) bisa diarahkan untuk “menengok” alam-alam surga tersebut.

Para dewa di alam surga memiliki usia kehidupan yang sangat panjang, sehingga terkadang mereka lupa bahwa kehidupan itu tidak kekal. Tetapi meskipun kita sebagai manusia teramat sering mengeluh, meratap dalam menjalani kehidupan di alam manusia ini, sesungguhnya kehidupan manusia ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki para dewa di alam surgawi, dan tumimbal-lahir ke alam manusia, bagi para dewa dianggap sebagai tempat tujuan yang baik. Karena sebab-akibat, atau hukum karma, hampir tidak berlaku diantara para dewa, mereka memiliki hanya sangat sedikit kekuatan, atau bahkan tidak memiliki kekuatan, untuk memutus samsara, roda dumadi, bhavacakka, yang mengikat semua yang harus mati, walaupun ingatan mereka mengenai ajaran-ajaran Dhamma – yang tidak terdengar di alam dewa – tidak punah, seperti halnya dengan semua ciri lain dari kehidupan manusia mereka.

II. RUPALOKA ( Alam Berbentuk ) :

Ini adalah Alam Brahma, dewa tertinggi dari Brahmanisme awal, yang ( hingga kini ) dianggap sebagai “Sang-Pencipta-Alam-Semesta” dan dipuja oleh para Brahmana dengan berbagai kurban dan ritual ( itulah sebabnya, dalam setiap tradisi agama apapun, ada upacara persembahan “kurban” binatang ditujukan bagi “Sang-Pencipta”. Kepercayaan ini ditentang oleh Sang Buddha, karena merupakan suatu kekeliruan ) . Mengenai upacara kurban binatang yang dipersembahkan bagi “sosok” yang dianggap “Yang-Maha-Kuasa” ini, Sang Buddha bersabda :

“ Upacara mengorbankan kuda atau manusia, upacara minuman, upacara kemenangan, upacara melempar pasak,…dst. ; kesemua jenis upacara ini tidaklah sebanding dengan seperenambelas bagian sekalipun dari hati yang diliputi oleh Cinta-Kasih. Bagaikan pancaran rembulan yang mengalahkan cahaya bintang-bintang.”

Alam ini disebut juga Rûpabhûmi , merupakan suatu alam tempat kemunculan ‘rûpâvacaravipâkacitta‘ atau kesadaran akibat yang lazim berkelana dalam alam brahma berbentuk. Dengan perkataan lain, rûpabhûmi adalah suatu alam tempat kelahiran jasmaniah serta batiniah para brahma berbentuk. Yang dimaksud dengan brahma ialah makhluk hidup yang memiliki kebajikan khusus yaitu berhasil mencapai pencerapan Jhâna yang luhur. Jhâna dihasilkan dari pengembangan Samatha Kammatthâna meditasi pemusatan batin pada satu objek demi tercapainya ketenangan.

Alam brahma terdiri atas 16 alam, yakni:

1. Tiga alam bagi peraih Jhâna pertama (paöhama),

2. Tiga alam bagi peraih Jhâna kedua (dutiya),

3. Tiga alam bagi peraih Jhâna ketiga (tatiya),

4. Dua alam bagi peraih Jhâna keempat(catuttha),

5. Dan lima alam Suddhâvâsa.

Sang Buddha, dalam rangka meluruskan pandangan kaum Brahmana, menginterpretasikan kembali pengertian mengenai “Brahma-Yang-Agung” ini, dari yang semula dianggap satu-dewa-tunggal “Yang-Maha-Kuasa” menjadi suatu kelompok dewa tinggi yang berdiam di alam berbentuk ( Rupadhatu / Rupaloka ), jauh diatas surga-surga alam sugati ( Kammadhatu ).

Kediaman Brahma ini disebut sebagai “Alam-Brahma”, yang ada banyak dengan berbagai dimensi dan tingkat kekuasaan. Didalam dunia mereka, para Brahma hidup secara berkelompok, dan “Mahabrahma” adalah penguasa para Brahma tersebut, lengkap denga para menteri dan dewan-dewan Brahma.

Seperti halnya semua makhluk hidup, para Brahma itupun tidak kekal, terkena hukum alam, dan juga bertumimbal lahir, meskipun terkadang diantara mereka melupakan hal ini dan menganggap bahwa mereka adalah “Yang-Mutlak”, “Jalan-Keluar-dan-Harapan”.

Para Brahma, dengan Maha Brahma sebagai pemimpinnya, memang memiliki kekuasaan yang besar. Mahabrahma dapat menolong ummatnya yang datang kepadanya, berdoa kepadanya, memohon ridlonya. Namun sesungguhnya, ia bukanlah “Sang-Pencipta”, bukanlah “Yang-Maha-Kuasa”, “Yang-Mutlak”.

Yang membuat Mahabrahma dan para Brahma beranggapan mereka adalah kekal-abadi, “Sang-Pencipta”, “Awal-dan-Akhir”, adalah karena usia mereka yang sangat panjang ( a. Brahma Parisajja / Dewan Brahma berusia 1/3 Asankheyya Kappa ; b. Brahma Purohita / Para Menteri Brahma berusia ½ Asankheyya Kappa ; dan, c). Maha Brahma berusia 1 Asankheyya Kappa. Ingat, 1 Asankeyya Kappa = 20 Antara Kappa, 1 Kappa adalah = 1 siklus daur-hidup alam-semesta ( dari big-bang s/d kiamat, dan menuju awal evolusi alam semesta kembali ) )

Sang Buddha tidak mengajarkan tiadanya “Yang-Mutlak”, karena justru Sang Buddhalah yang pertama kali didunia manusia ini yang menyatakan hal sebagai berikut “

“ O Bhikkhu, ada sesuatu Yang-Tidak-Dilahirkan, Yang-Tidak-Menjelma, Yang-Tidak-Tercipta, Yang-Mutlak. Jika seandainya saja, O, Bhikkhu, tidak ada Yang-Tidak-Dilahirkan, Yang-Tidak-Menjelma, Yang-Tidak-Diciptakan, Yang-Mutlak, maka tidak akan ada jalan keluar untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. … dst” ( Sutta-Pitaka, Udana VII : 3 )

Akan tetapi, yang ditolak dengan tegas oleh Sang-Buddha adalah, bahwa “Yang-Mutlak”, “Yang-Maha-Kuasa”, “Jalan-Keluar-dan-Harapan”, itu adalah : T U H A N / M A H A – D E W A , yang oleh ummat Brahmanisme dikenal dengan nama Maha-Brahma. Sebab, para Brahma itu sendiri “berbentuk”, “tercipta”, oleh karenanya, bukan “Yang-Mutlak”. Yang disebut “Yang-Mutlak” ini dalam agama Buddha adalah tidak bisa dikatakan. Sejalan dengan pengertian Tao, “ TAO yang dapat dibicarakan bukanlah TAO yang sebenarnya atau yang abadi dan nama yang dapat diberikan bukanlah nama sejati “ ( Tao Tee Cing ). Dalam ajaran Kejawen, “Yang-Mutlak” ini adalah “ Tan-Kena-Kinaya-Ngapa”, “Ora-Arah-Ora-Enggon”, “Kang-Langgeng-Tan-Owah-Gingsi​r-TANPA-KAWITAN-TANPA-WEKASAN”​ . Jadi, kalau masih bisa “Kinaya-Ngapa” / “Di-Seperti-Apakan” , bisa ditunjukan “Arah-dan-Tempat”-nya, “Wujud”-nya, maka itu bukanlah “Yang-Mutlak”.

Pernyataan Sang Buddha mengenai kesalah-pahaman Maha-Brahma dalam mengidentifikasikan dirinya sebagai “Maha-Pencipta” , “Bapa-Semua-Makhluk”, bisa kita temui dalam Brahmajala-Sutta, yang bunyinya sebagai berikut :

“ Para Bhikkhu, pada suatu masa yang lampau, setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali, “bumi ini belum ada”. Ketika itu umumnya makhluk-makhluk hidup di alam dewa Abhassara, disitu mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Demikianlah pada suatu waktu yang lampau, ketika berakhirnya suatu masa yang lama sekali, bumi ini mulai berevolusi dalam proses pembentukan, ketika hal ini terjadi alam Brahma kelihatan dan masih kosong. Ada makhluk dari alam dewa Abhassara yang masa hidupnya atau “pahala karma baiknya” untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam Brahma. Disini, ia hidp ditunjang pula oleh keuatan pikirannya, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya-cahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

Karena terlalu lama ia hidup sendirian disitu, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidakpuasan, juga muncul suatu keinginan, “O semoga ada makhluk lain yang datang dan hidup bersama aku disini!”

Pada saat itu ada makhluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala karma baiknya telah habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.

Para Bhikkhu, berdasarkan itu, maka makhluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat : “Aku Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu Tempat Bagi Semua Makhluk, Asal Mula Kehidupan, BAPA DARI YANG TELAH ADA DAN YANG AKAN ADA. SEMUA MAKHLUK INI ADALAH CIPTAANKU.”

Mengapa demikian ? Baru saja berpikir, semoga mereka datang, dan berdasarkan pada keinginanku itu maka makhluk-makhluk ini muncul.”

Makhluk-makhluk itu pun berpikir, “ Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu Tempat Bagi Semua Makhluk, Asal Mula Kehidupan, BAPA DARI YANG TELAH ADA DAN YANG AKAN ADA. KITA SEMUA ADALAH CIPTAANNYA”.

Mengapa ? Sebab, setahu kita, Dialah yang lebih dahulu berada disini, sedangkan kita muncul sesudah-Nya. “

Para Bhikkhu, dalam hal ini makhluk pertama yang berada disitu memiliki usia yang lebih panjang, lebih mulia, lebih berkuasa daripada makhluk-makhluk yang datang sesudahnya.

Para Bhikkhu, selanjutnya ada beberapa makhluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali di bumi.

Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah tangga dan menjadi petapa. Karena hidup sebagai petapa, maka dengan bersemangat, tekad waspada dan kesungguhan bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu. Mereka berkata, “ Dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu Tempat Bagi Semua Makhluk, Asal Mula Kehidupan, BAPA DARI YANG TELAH ADA DAN YANG AKAN ADA. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang kesini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas”.

Namun, para Brahma dan Maha-Brahma ini ,akhirnya, setelah mendapatkan penjelasan / pengajaran dari Sang Buddha, barulah ia memahami bahwa ia bukanlah “Awal-dan-Tujuan-Semua-Makhluk​”, bukan “Sangkan-Paraning-Dumadi”. Penjelasan terperinci mengenai hal ini bisa dibaca di Samyutta-Nikaya.

Rupadhatu / Rupaloka ini adalah alam dimana makhluk-makhluk merasa senang karena kebahagiaan Jhana ( Kegembiraan Luar Biasa ), yang dicapai dengan melepaskan nafsu keinginan indria. Jika seseorang ingin terlahir dalam “Rupadhatu” atau “Rupabrahma”, maka ia harus melepaskan keduniawian, mengikis nafsu indria, dan kemudian hidup bertapa untuk mencapai “Jhana” :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar